Terapi Doa

Pada tahun 1984 WHO memasukkan dimensi spiritual keagamaan sama pentingnya dengan dimensi fisik, psikologis dan psikososial. Seiring dengan itu, terapi terapi yang dilakukan pun mulai menggunakan dimensi spiritual keagamaan, terapi yang demikian disebut dengan terapi holistik artinya terapi yang melibatkan fisik, psikologis, psikososial dan spiritual (Ariyanto, 2006). The American Psychiatric Association (APA) mengadopsi gabungan dari empat dimensi di atas dengan istilah paradigma pendekatan biopsikososispiritual (Hawari, 2002). Lokakarya yang diselenggarakan APA pada tahun 1993 dengan judul Religion and Psychiatry Model of Partnership memberikan suatu anjuran untuk menambahkan terapi keagamaan disamping terapi psikis dan medis (Hawari, 2002).

Larson (1992) dan beberapa. pakar lainnya dalam berbagai penelitian yang berjudul Religious Commitment and Health, menyimpulkan bahwa di dalam memandu kesehatan manusia yang serba kompleks ini dengan segala keterkaitannya, hendaknya komitmen agama sebagai suatu kekuatan (spiritual power) jangan diabaikan begitu saja. Agama dapat berperan sebagai pelindung lebih dari pada sebagai penyebab masalah.
Pentingnya agama sebagai kelengkapan pemeriksaan psikiatrik dapat dilihat dalam textbook of psychiatry yang berjudul Synopsis of Psichiatry, Behavioral Sciences and Clinical Psychiatry karangan Kaplan dan Sadock (1991). Di dalam. buku tersebut disebutkan bahwa dalam wawancara psikiatri dokter (psikiater) hendaknya dapat menggali latar belakang kehidupan beragama dari pasien dan kedua orangtuanya, serta secara rinci mengeksplorasi sejauh mana mereka mengamalkan ajaran agama, yang dianutnya. Bagaimanakah sikap keluarga terhadap agama, taat atau longgar (strict or permissive); adakah konflik di antara kedua orangtuanya dalam. memberikan pendidikan agama kepada anak‑anaknya. Psikiater hendaknya dapat menelusuri riwayat kehiduipan beragama pasiennya, sejak masa kanak‑kanak hingga dewasa; sejauh mana. pasien terikat dengan ajaran agamanaya, sejauh mana kuatnya, dan sejauh mana mempengaruhi kehidupan pasien, pendapat pasien berdasarkan keyakinan agamanya terhadap terapi psikiatrik dan medik lainnya, serta bagaimanakah pandangan agamanaya terhadap bunuh diri dan sebagainya, (Hawari, 2002:).

Di ASEAN pentingnya terapi agama dalam psikoterapi mulai diperhatikan pada tahun 1995. Dalam Konggres ke lima Kedokteran Jiwa/Kesehatan Jiwa seASEAN di Bandung pada bulan Januari 1995, topik Psikiatri dan Agama merupakan salah satu topik bahasan dengan menampilkan tiga juduI makalah: New Concept of Holistic Approach in Indonesian Psychiatry and Mental Health; New Approach in the treatment of Depression; dan Religion issues in Psychiatric Practice (Hawari, 1997).

Di Indonesia beberapa konselor dan terapis telah memakai agama sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam konsultasi dan terapi psikisnya. Misalnya Prof. DR. Zakiah Daradjat dan Prof. DR. dr. Dadang Hawari. Keduanya juga menerbitkan beberapa buku yang berkaitan dengan konseling dan psikoterapi agama. Prof DR Zakiah Daradjat antara lain menerbitkan beberapa buku yang berjudul: Peranan Agama dalam Kesehatan Mental (1973), Islam dan Kesehatan Mental (1983), Do’a Menunjang Semangat Hidup (1992), Puasa Meningkatkan Kesehatan Mental (1993)., Prof DR. dr. Dadang Hawari menerbitkan beberapa. Buku antara lain: Konsepsi Islam Memerangi AIDS dan NAZA (1996), Al Qur’,an Kedokteran Jiwa dan Kesehatan jiwa (1997), Doa dan Dzikir Sebagai Pelengkap Terapi Medis (1997) Gerakan Nasional Anti mo limo., Madat, Minum, Main, Maling, dan, Madon (2000), Pendekatan Holistik pada Gangguan Jiwa Skizofreni (2001), Terapi (Detoksifikasi) dan Rehabilitasi (Pesantren) Mutakhi (Sistem terpadu) Pasien Naza (Narkotika, Alkohol dan Zat Adiktif Lain) Metode Prof Dr. dr. H. Dadang Hawari Psikiater (2001), Penyalahgunaan dan Ketergantungan NAZA (Narkotika, Alkohol, dan Zat Adiktif) (2001), Dimensi Religi dalam Praktek Psikiatri dan Psikologi (2002), Manajemen Stres Cemas dan Depresi (2002).

Di samping itu di beberapa pesantren, para kyai dan ustadz juga melakukan kegiatan konseling dan psikoterapi dengan menggunakan agama. Misalnya Pesantren Suryalaya Tasikmalaya, Pesantren Raudhatul Muttaqien Yogyakarta, PesantrenAl-Ghafur Situbondo, Pesantren An-Nawawi Bojonegoro (Rendra, 2000), PesantrenAl-Islamy Yogyakarta (Arif, 2005), dan beberapa pesantren lainnya yang tidak disebutkan di sini.

Penelitian Terapi yang Menggunakan Doa

Di San Francisco, AS studi untuk mengetahui efektivitas doa dan zikir dilakukan terhadap 393 pasien jantung. Responden dibagi dalam dua kelompok secara acak. Kelompok pertama memperoleh terapi doa dan zikir, lainnya tidak. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang mendapatkan terapi doa hanya sedikit yang mengalami komplikasi. Sementara pada kelompok yang tidak diberi terapi doa timbul berbagai komplikasi.
Dr. Oxman, TE dan kawan-kawan mengemukakan bahwa salah satu faktor prediksi yang kuat bagi keberhasilan operasi jantung adalah tingkat keimanan pasien. Dari studi yang mereka lakukan terbukti bahwa semakin kuat keimanan pasien, kian kuat pula proteksinya terhadap kematian akibat operasi. Kesimpulan itu mereka tuangkan dalam artikel berjudul Lack of Social Participation or Religious Strength or Comfort as Risk Factors for Death after Cardiac Surgery in The Elderly, yang dimuat Psychosomatic Medicine. Penelitian lain tentang kaitan doa dan kematian akibat penyakit juga dilakukan Comstock dan kawan-kawan sebagaimana termuat dalam Journal of Chronic Disease. Dinyatakan bahwa mereka yang melakukan kegiatan keagamaan secara teratur disertai doa, memiliki risiko kematian akibat penyakit jantung koroner lebih rendah 50% dibanding mereka yang tidak melakukan kegiatan keagamaan. Sementara kematian akibat emfisema (paru-paru) lebih rendah 56%, kematian akibat penyakit hati (sirosis hepatis) lebih rendah 74% dan kematian akibat bunuh diri lebih rendah 53%.Bukti lain datang dari penelitian Robbins dan Metzner yang dilakukan selama 8-10 tahun terhadap 2700 responden didapati bahwa responden yang rajin menjalankan ibadah serta berdoa, angka kematiannya jauh lebih rendah dibandingkan yang tidak beribadah.Penelitian Larson dan kawan-kawan terhadap para pasien tekanan darah tinggi dibandingkan pada kelompok kontrol (bukan pasien hipertensi), diperoleh kenyataan bahwa komitmen agama kelompok kontrol lebih kuat. Selanjutnya dikemukakan kegiatan keagamaan seperti doa dapat mencegah seseorang dari penyakit hipertensi.

Dokter Larry Dossey, M.D., seorang dokter dari Mexico, menjelaskan bahwa dalam sejumlah penelitian tentang doa menunjukkan bahwa doa dapat menyembuhkan. Jarak tidak mempengaruhi dalam kemanjuran doa, apakah doa tersebut dilakukan di dekat pembaringan pasien, di luar kamar, atau di seberang lautan.

Dalam bukunya Healing Words dia menulis sebagai benkut:

Penyembuhan yang berkaitan dengan doa, yang menjadi pusat perhatian buku ini merupakan suatu terapi murni Era III Mengapa tak terikat tempat? Setelah banyak melakukan penelitian, saya tidak bisa menemukan seorang pakar pun yang mau mengatakan bahwa tingkat pemisahan jarak antara orang yang berdoa dengan pasien merupakan factor dalam hal kemanjurannya. Orang‑orang yang mempraktekkan penyembuhan melalui doa semuanya mengatakan bahwa pengaruh-pengaruh doa tidak dipengaruhi oleh jarak, doa itu sama manjurnya walaupun yang berdoa dan yang menjadi tujuan doa terpisah .oleh samudera atau ada di balik pintu atau cuma di sisi tempat tidur.

Studi terhadap sekelompok orang memperlihatkan bahwa doa secara positif mempengaruhi tekanan darah tinggi, luka, serangan jantung, sakit kepala, dan kecemasan. Subyek‑subyek dalam studi ini mencakup pula air, enzim, bakteri, jamur ragi, sel-sel darah merah, sel-sel kanker, sel-sel pemacu, benih, tumbuhan, ganggang, larva, ngengat, tikus, dan anak ayam; dan di antara proses‑proses yang telah dipengaruhi adalah proses kegiatan enzim, laju pertumbuhan sel darah putih leukemia, laju mutasi bakteri, pengecambahan dan laju pertumbuhan berbagai macam benih, laju penyumbatan sel pemacu, laju penyembuhan luka, besarnya gondok dan tumor, waktu yang dibutuhkan untuk bangun daripembiusan total, efek otonomi seperti kegiatan elektro-dermal kulit, laju hemolisis sel‑sel darah merah, dan kadar hemoglobin.
Perlu diingat bahwa akibat yang ditimbulkan oleh doa tidak terpengaruh jarak. Apakah orang yang berdoa berada dekat atau jauh dari dengan organisme (obyek) yang didoakan; penyembuhan dapat berlangsung entah di tempat itu juga atau di tempat lain. Tak ada satupun yang nampaknya sanggyp menghambat atau meng­hentikan doa. Bahkan walaupun “obyek ” yang didoakan itu ditempatkan di sebuah ruangan berlapis timah atau ruangan yang tidak bisa ditembus berbagai macam energi gelombang elektromagnetik,‑ toh akibat doa masih bisa menembus

Senada dengan di atas, Linda 0′ Riordan R.N., pendiri dan direktur Healthy Potentials, sebuah organisasi kesehatan integrative di Amerika Serikat dalam bukunya The Art of Sufi Healing menyatakan:
Artikel‑artikel penelitian tentang pengaruh yang terukur dari doa mulai diterbitkan dalam jurnal professional. Sebuah studi di VSCF Medical Center baru-baru ini menemukan bahwapasien operasi jantungyang didoakan oleh orang lain tampak jauh lebih mampu bertahan, pasien tersebut juga mengalami komplikasi yang lebih sedikit dan lebih singkat waktu perawatannya. Studi lain mengindikasikan bahwa orang yang berdoa teratur merasa lebih baik dan lebih merasa damai. Frekuensi doa sama halnya dengan ftekuensi membaca kitab suci, memiliki korelasi positif dengan kesehatan semakin sering berdoa, maka kesehatan semakin baik.
Institut Pengobatan dan Doa Santa Fe menyajikan bukti‑bukti ilmiah seputar masalah doa kepada para praktisi kesehatan dan mengembangkan metode menggabungkan praktik spiritual ke dalam praktik pengobatan aktual.

Prof Dr. Zakiah Daradjat, pakar dan praktisi konseling dan psikoterapi Islam, berpendapat bahwa doa dapat memberikan rasa optimis, semangat hidup dan menghilangkan perasaan putus asa ketika seorang menghadapi keadaan atau masalah-masalah yang kurang menyenangkan baginya. Dalam hal ini dia menyatakan:

Dalam kehidupan manusia sehari-hari, ditemukan aneka ragam cara menghadapi masalah atau keadaan yang kurang menyenangkan. Ada orang yang mudah patah semangat, menyerah kepada keadaan, kehilangan kemampuan untuk mengatasi kesulitan, bahkan menjadi putus asa dan murung. Misalnya orangyang ditimpa suatu penyakit yang membahayakan, seperti penyakit jantung, kanker, lever dan sebagainya. Orang yang lemah semangat hidupnya, akan tenggelam dalam kesedihan, dan membayangkan kematian yang akan segera datang menghampirinya, seolah-olah setiap saat nyawanya akan putus. Orang yang dulu kuat bersemangat, kini menjadi lemah tak berdaya, sedih dan takut menghadapi maut yang terasa mengintip-intip kesempatan untuk menerkam dirinya.

Obat dan nasihat dokter tidak dapat menolongnya dari perasaan duka, kecewa, takut bercampur penyesalan terhada perangai dan ulahnya di masa lalu, karena ia dulu kurang menjaga kesehatan, bahkan kadang‑kadang ia menyesali Allah kenapa tidak meliondunginya dari penyakit. Selanjutnya ketakutan menghadapi maut dihubungkannya dengan azab kubur, neraka dan segala siksa yang ditimpakan kepada orang berdosa di hari kiamat nanti.

Orang yang demikian sering dikatakan kehilangan semangat hidup. Keadaan kejiwaan seperti itu, menyebabkan dirinya menjadi murung, putus asa, sedih dan seolah-olah ia tidak mau berjuang menghadapi penyakitnya. Bagi orang yang taat beribadah, dan selalu merasa dekat kepada Allah S. W T do’a menjadi penun­jang bagi semangat hidup yang tiada taranya. Ia tidak akanpernah kehilangan semangat hidup, kare­na ia yakin bahwa yang memberi hidup itu adalah Allah, dan tiada penyakit yang dapat membunuh, jika Allah tidak izinkan, dan ia yakin bahwa tiada perangai manusia dan kekalu tan keadan yang membawa kiamat, bila Allah tidak menghendakinya Jadi do’a amat penting dalam kehidupan manusia, baik mereka yang terbelakang, maupun yang maju. Dan doa adalah penunjang semangat hidup yang amat penting………………………… D’oa memang penting bagi ketenteraman batin. Dengan berdo’a kita memupuk rasa optimis di dalam diri, serta menjauhkan rasa pesimis dan putus asa. Lebih dari itu semua, do’a mempunyai peranan penting dalam penciptaan kesehatan mental dan semangat hidup. Do’a mempunyai makna penyembuhan bagi stress dan gangguan kejiwaan. Doa juga mengandung manfaat untuk pencegahan terhadap terjadinya kegoncangan jiwa dan gangguan kejiwaan. Lebih dari itu, do’a mempunyai manfaat bagi pembinaan dan peningkatan semangat hidup. Atau dengan kata lain, do’a mempunyai fungsi kuratif, preventif dan konstruktif bagi kesehatan mental (Zakiah, 1992).

Dadang Hawari, Psikiater yang mengembangkan psikoterapi holistik, berpendapat bahwa doa menimbulkan ketenangan. Dia menulis sebagai berikut:

Para peneliti seperti Harrington, A., Juthani, N. V (1996) dan Monakov, V, Goldstein (1997) mencoba mencari hubungan antara ilmu pengetahuan (neuroscientific concepts) dengan dimensi spiritual Yang hingga sekarang masih belum jelas, namun diyakini adanya hubungan tersebut. Dalam presentasinya yang berjudul Brain and Religion: Undigested Issues diyakini adanya God Spot dalam susunan sarafpusat (otak). Sebagai contoh misalnya orang Yang menderita kecemasan, kemudian diberi obat anti cemas, maka yang bersangkutan akan menjadi tenang. Namun orang Yang sama bila memanjatkan doa dan disertai zikir ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa juga akan memperoleh ketenangan. Oleh karena itu amatlah tepat apa Yang dikatakan oleh Christy, JH (1998) Yang menyatakan Prayer as Medicine; namun hal ini tidak berarti terapi dengan obat (medicine) diabaikan…. (Hawari, 2002).

Di samping itu doa juga menimbulkan rasa percaya diri (selfconfident) dan optimis (harapan kesembuhan). Ini. merupakan dua. hal yang amat essensial bagi penyembuhan. suatu penyakit, disamping obat‑obatan dan tindakan medis. Dalam hal ini dia menulis sebagai berikut:

Dipandang dari sudut kesehatan jiwa, doa dan dzikir mengandung unsur psikoteraputik Yang men­dalam. Pasikoreligius terapi ini tidak kalah pentingnya diban­dingkan denganpsikoterapipsikia­trik karena ia mengandung kekua­tan spirituallkerohanian Yang membangkitkan rasa percaya diri dan rasa optimisme (harapan kesembuhan). Dua hal ini, yaitu rasa percaya diri (self konfident) dan optimisme, merupakan dua hal Yang amat essensial bagipenyem­buhan suatu penyakit di samping obat‑obatan dan tindakan medis Yang diberikan (Hawari, 1998: 8).

Dr. Moh. Sholeh, psikiater, penulis disertasi Pengaruh Salat Tahajjud terhadap Peningkatan Respons Ketahanan Tubuh Imunologik, Suatu Pendekatan Psikoneuroimunologi (2000), menyatakan bahwa doa merupakan autosugesti yang dapat mendorong seseorang berbuat sesuai dengan yang didoakan dan dapat merubahjiwadanbadan. Diamenulis pengwuh doa sebagai berikut:

Dari segi hipnotis, Yang menjadi landasan dasar teknik terapi sakit jiwa. Ucapan sebagaimana terse­but di atas merupakan “autosugesti”, yang dapat mendorong kepada orang yang mengucapkan untuk berbuat sebagaimana yang dikatakan. Bila doa itu diucapkan dan dipanjatkan dengan sungguh­sungguh, maka pengaruhnya sa­ngatjelas bagiperubahanjiwa dan badan (H. Aulia, 1970). Dan menu­rut Robert H. Thouless (1991) doa sebagai teknik penyembuhan gangguan mental, dapat dilakukan dalam berbagai kondisi yang terbukti membantu efektifitasnya dalam mengubah mental seseorang (Sholeh, 2005)

Menurut Ibrahim Muhammad Hasan al‑Jamal, dengan berdoa orang akan merasakan kehadiran Allah SWT, kedamaian, ketenangan, meninggikan spiritual, dan memperkuat motivasi yang positif disebutkan Dalam bukunya Al‑Istisfa’bi ad­ Do’a sebagai berikut:

Mereka juga mengatakan, “Kalau kita melihat doa secara medis dan dampak positifnya terhadap jiwa, maka kita akan mengetahui bahwa doa sesungguhnya berfungsi untuk mempersiapkan seorang Mukmin yang selalu bisa merasakan keha­diran Yang Mahatinggi lagi Maha­kuasa di hadapannya. Sehingga dengan doanya dia akan merasa sedang melakukan kontak dengan Dzat Yang apabila menghendaki segala sesuatu hanya mengatakan, ‘Jadilah (kamu) maka jadilah ia (kun fayakun). “Selain itu, dia akan dapat merasakan kedamaian dan ketenangan. Diajuga akan dapat merasakan betapa berharganya suatu kenikmatan ketika ia sudah tidak lagi mampu merasakan kenikmatan yang ada di dunia ini. Kesemuanya itu akan dapat memcu meningginya kekuatan nilai­nilai spiritualnya, memperkuat motivasinya dan menjadikan sebab segal ajenis penyaki tjiwa dan syaraf tidak menghinggapinya. “

Sungguh, ucapan adalah modal dasar pengobatan modern untuk menguatkan nilai‑nilai mentalpengi­dap penyakit kefiwaan. Sedangkan doa adalah sarana terpenting untuk itu. Hal itu disebab‑kan karena doa mampu memberikan ilham kepada jiwanya dan karenanyapendoa bisa memperoleh makanan sekaligus obat bagi roh danjiwanya. Selain ity, doa juga sebagai penguat dan pengokoh motivasinya yang positif Sehingga doa dapat menjadikan roh dan jiwa mampu mengalahkan segala apa yang menimbulkan dampak negative terhadapnya. Pada gilirannya nanti roh danjiwa tersebut tidak bisa ditembus oleh sifatputus asa dan tidakpula bisa dicengkram oleh sifat lemah (mudah patah semangat) (Al‑Jamal, 2003)

Keimanan kepada Tuhan merupakan faktor amat penting untuk membuat orang percaya bahwa doa memang ampuh dalam membantu proses penyembuhan penyakit. Suatu survei mengenai hal itu pernah dilakukan majalah TIME, CNN, dan USA Weekend. Rata-rata survei itu menunjukkan lebih dari 70% orang menyatakan percaya bahwa doa dapat membantu proses penyembuhan. Dari survei tersebut terungkap bahwa banyak pasien membutuhkan terapi keagamaan selain obat-obatan atau tindakan medis lainnya. Lebih-lebih dari 64% orang berharap agar para dokter juga memberikan terapi psikoreligius dan doa.Dr. Dale A. Matthews, dari Universitas Georgetown, Amerika Serikat mengamati paling tidak ada 212 penelitian tentang terapi doa yang telah dilakukan. Dari jumlah itu 75% menyatakan bahwa komitmen agama, di antaranya dalam bentuk doa dan zikir menunjukkan pengaruh positif pada pasien.

Doa dalam Islam

Rasulullah saw dilihat dari salah satu sisi kehidupannya adalah sebagai konselor dan terapis. Dia sering memberi beberapa nasihat pada orang yang sedih, cemas, takut, dan gangguan kejiwan lainnya melalui metode doa. Doa secara harafiah berarti ibadah, istighotsah memohon bantuan dan pertolongan (al-baqoroh 23) permintaan permohonan (Al-mukmin 60) percakapan (yunus 10) memanggil dan memuji (Al Israa 110). Adapun pengertian doa secara istilah ialah melahirkan kehinaan dan kerendahan diri serta menyatakan hajat dan ketundukan kepada Allah (ariyanto, 2006).

Beberapa fadilah yang berkenaan dengan doa dapat kita lihat dari ayat berikut;

1. Dan Tuhanmu berfirman berdoalah kepada-Ku niscaya akan aku perkenankan bagimu, sesungguhnya orang orang yang menyombongkan diri dari menyembahku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina. (surat Ghafir 60)

2. dan apabila hamba hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka jawablah bahwasannya adalah aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apa bila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada kebenaran (Al Baqoroh 186)

3. Dalam sabda Nabi saw doa adalah ibadah, Tuhanmu telah berfirman berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu (H.R Abu Dawud, Turmudzi, dan Ibnu Majah)

4. sabda Nabi saw tidak ada seorang muslimpun yang berdoa kepada Allah dengan suatu permohonan yang tidak mengandung unsur dosa maupun pemutusan tali kerabat kecuali Allah akan memberikan kepadanya satu diantara 3 hal yakni permohonan yang dikabulkan, permohonannya dia simpan untuk urusan akhiratnya, atau dia akan menjauhkannya dari kejahatan yang sepadan dengan doa yang dia baca. Para sahabat bertanya : jika demikian kami memperbanyak doa. Nabi bersabda Allah maha lebih banyak karunianya (HR Turmudzi dan Ahmad)

Dalam doa terkandung juga unsur dzikir dan dzikir ini memiliki pengaruh terapi terhadap jiwa seperti yang diuraikan oleh DR. Hanna menjelaskan bahwa secara umum dzikrullah adalah perbuatan mengingat Allah dan keagungan-Nya dalam bentuk yang meliputi hampir semua bentuk ibadah, perbuatan baik, berdoa, membaca Al-Quran, mematuhi orang tua, menolong teman dalam kesusahan dan menghindarkan diri dari kejahatan serta perbuatan zalim. dalam arti khusus, dzikrullah adalah menyebut nama Allah sebanyak-banyaknya dengan memenuhi tata tertib, metode, rukun dan syarat sesuai yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya. Salah satu petunjuk Alquran tentang pelaksanaan dzikrullah adalah : dan sebutlah (Nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. Bagaimana penjelasan dzikrullah akan melahirkan penghayatan tenang dan tentram? Melongok pada tinjauan psikologis, dalam buku Integrasi Psikologi dengan Islam, dijelaskan bahwa dzikrullah dengan penuh kekhusyuan dan terus menerus akan membiasakan sanubari kita senantiasa dekat dan akrab dengan Allah SWT. Selanjutnya, secara tak disadari akan berkembanglah kecintaan yang mendalam kepada Allah SWT (hubbullah) dan semakin mantaplah hubungan hamba dengan Rabbnya (hablun minAllah). Secara psikologis akan berkembanglah penghayatan akan kehadiran Allah SWT dalam setiap gerak gerik kehidupan. Ia tak merasa hidup sendirian di dunia, karena ada Dzat yang Maha Mendengar segala kesusahan yang dihadapi. Ketenangan dari dzikrullah akan menghasilkan dampak relaksasi yang bermakna bagi seseorang yang menjalani proses penyembuhan)

Tahap tahap Psikoterapi Doa

1. Tahap kesadaran sebagai hamba

Inti dari terapi ini adalah pembangkitan kesadaran, kesadaran terhadap kehambaan dan kesadaran akan kelemahan sebagai manusia. Bentuk kesadaran ini akan menghantarkan seseorang yang berdoa berada pada keadaan lemah. Tanpa adanya kesadaran akan kelemahan diri ini maka kesungguhan dalam berdoa sulit dicapai. Hakikat berdoa adalah meminta, yang meminta derajatnya harus lebih rendah dari pada yang dimintai. Untuk itu sebelum seseorang berdoa diharuskan untuk merendahkan diri dihadapan Allah.
Bentuk kesadaran diri ini dapat dilakukan dengan melihat kepada diri sendiri misalnya melihat jantung bahwa jantung itu bergerak bukan kita yang menggerakkan, darah yang mengalir bukan atas kehendak kita, atau juga dapat melihat masalah yang sedang dihadapi, ketidakberdayaan, ketidakmampuan mengatasi hal ini dimunculkan dalam kesadaran sehingga bukan nantinya dapat menimbulkan sikap menerima dan sikap pasrah.

Pada tahap ini seseorang juga disadarkan akan gangguan kejiwaan atau penyakit yang dialami. Penyakit tersebut bukan ditolak namun diterima sebagai bagian dari diri kemudian dimintakan sembuh kepada Allah.

2. Tahap penyadaran akan kekuasaan Allah swt
Selanjutnya setelah diri sadar akan segala kelemahan dan segala ketidakmampuan diri maka pengisian dilakukan yaitu dengan menyadari kebesaran Allah kasih sayang dan terutama adalah maha penyembuhnya Allah. Tahap ini juga menimbulkan pemahaman tentang hakikat sakit yang dialami bahwa sakit berasal dari Allah dan yang akan menyembuhkan adalah Allah. Penyadaran akan kekuasaan Allah ini dapat dilakukan dengan melihat bagaimana Allah menggerakkan segala sesuatu, menghidupkan segala sesuatu
Tahap ini juga dapat menumbuhkan keyakinan kita kepada Allah atas kemampuan Allah dalam menyembuhkan. Bagaimamana seseorang dapat berdoa kalau dirinya tidak mengenal atau meyakini bahwa Sang Penyembuh tidak dapat menyembuhkan. Yakin juga merupakan syarat mutlak dari suatu doa karena Allah sesuai dengan prasangka hambanya, jika hambanya menyangka baik maka Allah baik demikian pula sebaliknya. Kegagalan utama terhadap jawaban Allah atas doa yang kita panjatkan kepada Allah adalah keraguan kita. Seringkali ketika berdoa namun hati mengatakan ”dikabulkan tidak ya” atau mengatakan ”mudah-mudahan dikabulkan” kalimat ini maksudnya tidak ingin mendahului Allah tapi sebenarnya adalah meragukan Allah dalam mengabulkan doa kita.
Ada perbedaan antara mendahului kehendak Allah dengan keyakinan yang tujukan kepada Allah. Jika mendahului biasanya menggunakan kata seharusnya begini, harus begini, tapi jika yakin kita optimisme akan kehendak Allah dan tidak masuk pada kehendak Allah.
Sebagai contoh bila kita berdoa ya Allah hilangkan kesedihan hati saya maka kita yakin kepada Allah bahwa Allah memberikan kesembuhan. Hal yang penting juga adalah afirmasi terhadap doa yang kita panjatkan kalau berdoa harus yakin dikabulkan tidak ada alasan lain untuk tidak yakin selain dikabulkan. Sebab Allah akan mengabulkan apa yang kita yakini dari pada apa yang kita baca dalam doa kita.
3. Tahap Komunikasi

Setelah sadar akan kelemahan dan penyakit yang dialami, dan sadar akan kebesaran Allah maka selanjutnya adalah berkomunikasi dengan Allah sebagai bagian penting dari proses terapi. Tahap komunikasi ini dapat berbentuk

1. Pengungkapan pengakuan segala kesalahan dan dosa, ini merupakan langkah awal sebab dengan hati yang bersih kontak dengan Allah akan lebih jernih.

2. Pengungkapan kegundahan hati dan kegilasahan yang dialami, tahap ini dapat berefek katarsis yaitu memberikan segala permasalahan keluar diri, dalam kontek ini kita memberikan segala kegalauan hati kepada Allah. Selain itu dengan pengungkapan ini kita akan menumbuhkan rasa dekat kepada Allah. Tahap ini juga merupakan curhat seperti seorang anak dengan ibunya, begitu dekat dan tidak ada yang ditutupi, jujur kepada Allah dari apa yang dirasakan apa yang dipikirkan apa yang menjadi kekhawatiran. Tahap ini jika dilakukan dengan benar sudah merupakan terapi terhadap jiwa, seperti halnya seorang klien yang mencurahkan segala unek uneknya kemudian didengar oleh psikolognya dengan penuh penerimaan, dengan penuh kasih sayangnya.

3. Permohonan doa kesembuhan terhadap apa yang dialami. Permohonan doa bukanlah perminataan yang memaksa Allah untuk mengabulkan. Untuk itu doa yang dipanjatkan harus disertai dengan kerendahan hati, dengan segenap sikap butuh kepada Allah. Posisi hamba yang berdoa adalah meminta dia tidak berhak untuk memaksa, hamba tadi hanya diberi wewenang untuk meyakini bahwa doanya dikabulkan bukan memaksa allah untuk mengabulkan.

4. Tahap menunggu diam namun hati tetap mengadakan permohonan kepada Allah
Doa merupakan bentuk komunikasi antara yang meminta dan yang memberi. Ketika proses permintaan sudah disampaikan maka proses pemberian (dijawabnya doa) harus ditunggu karena pemberian atau dijawabnya bersifat langsung. Syarat untuk dapat menerima jawaban ini adalah dengan sikap rendah diri, terbuka, dan tenang (tidak tergesa gesa). Sikap ini akan dapat menangkap kalam Allah (jawaban doa) yang tidak berbentuk ucapan tidak berbentuk huruf tapi berbentuk pemahaman pencerahan, ilham (enlightment), atau berbentuk perubahan perubahan emosi dari tidak tenang menjadi tenang, dari sedih menjadi hilang kesedihannya.
Tahap ini merupakan tahap respon yang diberikan oleh Allah kepada kita sebagai jawaban doa yang kita panjatkan. Tahap ini juga disertai dengan sikap pasrah total kepada Allah mengikuti apa maunya Allah dan apa kehendak Allah, sikap ini akan dapat menangkap jawaban Allah.

Instruksi ringkas untuk proses terapi
1. Tumbuhkan niat dalam diri untuk minta disembuhkan Allah

2. Rilekskan tubuh, kendorkan dari mulai kaki hingga kepala, jangan ada ketegangan otot

3. Sadari keluhan yang dirasakan, amati keluhan itu, ikuti dengan kesadaran bahwa kita lemah, tidak berdaya dan tidak memiliki kemampuan apa apa.

4. Sadari kebesaran Allah, lihat alam semesta, bagaimana Allah menggerakkan alam ini, menghidupkan alam ini, Dia Allah yang memberi hidup dan memberi mati, dia yang memberi sembuh dan memberi sakit.

5. Ungkapkan seluruh keluhan yang dirasakan kepada Allah

6. Mintakan kesembuhan kepada Allah

7. Tetap relaks dan masih pada posisi memohon kepada Allah

8. Pasrah kepada Allah sertai dengan keyakinan bahwa Allah menjawab doa yang dipanjatkan.

9. (menunggu jawaban doa, diam namun tetap ingat memohon kepada Allah)
Metode ini merupakan pengalaman penulis dalam melakukan terapi melalui doa baik yang dilakukan pada diri sendiri maupun pada orang lain, dari orang yang merasakan terapi ini perubahan-perubahan yang terjadi langsung bisa dirasakan. Namun metode ini secara empiris belum pernah diadakan suatu eksperimen yang terstruktur sehingga metode ini kurang dapat dipertahankan secara ilmiah. Dengan adanya diskusi ini penulis mengharapkan adanya kerjasama untuk mengembangkan terapi doa ini karena caranya yang praktis, hasilnya cukup dapat dirasakan dan tidak mengandung kesyirikan karena doa yang kita penjatkan langsung ke Allah.

Daftar Pustaka

Al-Jamal.2003. Penyembuhan dengan Dzikir dan Doa. (terjemahan) cendekia Sentra Muslim : Jakarta

Ariyanto D. 2006. Psikoterapi dengan Doa. Jurnal Suhuf vol XVIII no 1

Dossey, MD. 1997. Healing Word, Kata-kata yang Menyembuhkan Kekauatan Doa dan Penyembuhan Gramedia : Jakarta

Hawari, D. 1997. Al-Quran Ilmu Kedokteran jiwa dan Kesehatan Jiwa Dana Bakti Primayasa : Jakarta

_________1998. Doa dan Dzikir sebagai Pelengkap Terapi Medis. Dana Bhakti Primayasa : Jakarta

_________2002. Dimensi Religi dalam Praktek Psikiatri. Fakultas Kedokteran UI : Jakarta

Ngemron M, Thoyibi. 1996. Psikologi Islam. Surakarta Muhammadiyah University : Surakarta

Subandi (ed) 2002 Psikoterapi Pendekatan Konvensional dan Kontemporer. Unit Publikasi Fakultas Psikologi UGM : Yogyakarta

Sholeh M.2005. Agama Sebagai Terapi Telaah Manuju Kedokteran Holistik. Pustaka Pelajar : Yogysakarta

Zakiah D. 1992. Doa Menunjang Semangat Hidup. Yayasan Pendidikan Islam Ruhama : Jakarta

About these ads

About zainura66

Pencinta Alam Semesta
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

One Response to Terapi Doa

  1. It is appropriate time to make some plans for the future and it’s time to be happy. I’ve read this
    post and if I could I desire to suggest you few interesting
    things or tips. Maybe you could write next articles referring to this
    article. I wish to read even more things about it!

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s